(Opini) Pasar Modal saat Ramadhan

 

Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan bagi umat muslim pada bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan biasanya berlangsung selama 29–30 hari berdasarkan pengamatan hilal dan menurut beberapa aturan yang tertulis dalam hadits. Ramadhan merupakan bulan kesembilan dalam kalender Islam. Ramadhan dirayakan oleh umat Muslim di seluruh dunia dengan puasa dan memperingati turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.

Sebagai negara mayoritas muslim terbesar di dunia, Ramadhan merupakan momen perayaan keagamaan yang sangat populer di Indonesia. Ramadhan di Indonesia memiliki sifat yang khas dibandingkan dengan Ramadhan di belahan dunia lain. Sudah menjadi tradisi di Indonesia, di penghujung bulan Ramadhan kebanyakan orang melakukan tradisi mudik yaitu pulang ke kampung halaman untuk menghabiskan Hari Raya Idul Fitri bersama orang tua dan keluarga besar. Tradisi mudik ini disertai dengan hal lainnya seperti memakai baju baru dan menukar uang dalam pecahan kecil seringnya untuk dibagikan kepada anak-anak kecil sebagai hadiah lebaran. Dalam merayakan bulan Ramadhan, Indonesia juga memiliki berbagai tradisi yang rutin dilakukan dari tahun ke tahun, mulai dari berburu takjil hingga membelanjakan THR untuk keperluan hari raya. Tradisi-tradisi ini tentu mempengaruhi kegiatan ekonomi masyarakat secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung, pada bulan Ramadhan tingkat konsumsi masyarakat meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan. Secara tidak langsung, tradisi bulan Ramadhan juga mempengaruhi kinerja di pasar modal. 

Ditahun ini juga Indonesia dihadapkan dengan pandemi covid-19, yang secara tidak langsung pasar modal yang dihadapi juga akan dipengaruhi dengan adanya kondisi ini. Mengapa demikian ? Berikut adalah opini saya.

Pandemi Covid-19 di Indonesia

Dikutip dari Wikipedia Pandemi Covid-19 di Indonesia merupakan bagian dari pandemi penyakit korona virus (Covid-19) yang sedang berlangsung di seluruh dunia. Kasus positif Covid-19 di Indonesia pertama kali dideteksi pada tanggal 2 Maret 2020, ketika 2 orang terkonfirmasi tertular dari seorang warga negara Jepang. Pada tanggal 9 April, pandemi sudah menyebar ke 34 provinsi dengan DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah sebagai provinsi paling terpapar virus corona di Indonesia. Sampai tanggal 28 April 2021, Indonesia telah melaporkan 1.657.035 kasus positif menempati peringkat pertama terbanyak di Asia Tenggara

Kondisi Pasar Modal di Indonesia pada Masa Pandemi Covid-19

Pasar modal adalah tempat dimana berbagai pihak khususnya perusahaan menjual saham (stock) dan obligasi (bond) dengan tujuan dari hasil penjualan tersebut nantinya akan dipergunakan sebagai tambahan dan atau untuk memperkuat modal perusahaan. Menurut UU No. 8 tahun 1995 tentang Capital Market (Pasar Modal), yaitu pasar modal sebagai kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek. Efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, dan unit penyertaan kontrak investasi.

Kondisi ekonomi pada bulan Ramadhan tahun 2021 memang berbeda dari Ramadhan-Ramadhan tahun sebelumnya. Kini, masyarakat global juga harus menghadapi wabah Covid-19. Pandemi Covid-19 telah melanda secara global sejak awal tahun 2020. Situasi wabah tentunya membuat aktivitas ekonomi menjadi tidak normal. Karenanya, kinerja pasar modal di Indonesia juga cenderung mengalami penurunan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Dilansir dari situs resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG adalah indeks yang mengukur kinerja semua saham tercatat di Papan Utama dan Papan Pengembangan BEI. Dalam bahasa Inggris, IHSG disebut juga sebagai Indonesia Composite Index (ICI) atau IDX Composite.

Sebagai gambaran, ada begitu banyak emiten yang mencatatkan sahamnya di BEI. Umumnya, setiap saham memiliki pergerakan yang berbeda-beda dalam satu hari. Ada yang naik, turun, maupun stagnan. Jika saham-saham tersebut digabung, rata-rata pergerakan sahamnya adalah apa yang tercermin di IHSG. Ketika IHSG naik, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar saham tercatat di BEI juga mengalami kenaikan. Begitu pula sebaliknya. 

Kini kondisinya sudah berbeda dengan dua tahun yang lalu yang awalnya pada saat bulan Ramadhan kondisi pasar modal stabil-stabil saja dan tepat pada hari Presiden Jokowi mengumumkan dua kasus positif Covid-19 pertama di Indonesia, IHSG ditutup dengan 91 poin ke level 5.361. Sebelumnya, IHSG juga telah mengalami penurunan akibat sentimen negatif mewabahnya Covid-19 terlebih dahulu di Cina. Fakta-fakta tersebut mengindikasikan bahwa wabah Covid-19 memang mempengaruhi kinerja di pasar modal.

Turunnya IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) secara signifikan pada saat wabah Covid-19 dipengaruhi oleh kekhawatiran investor yang kemudian menjual saham yang dimiliki.

Para investor juga lebih banyak menjuala saham yang dimiliki untuk bisa mendanai keperluan mereka dibulan Ramadhan hingga hari raya nanti, terlebih lagi dengan adanya pandemi ini mereka juga harus pintar-pintar membagi keuangannya.

Untuk menyikapi anjloknya IHSG, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah memberlakukan kebijakan trading halt, atau kebijakan penghentian perdagangan. Artinya, jika terjadi penurunan yang signifikan pada satu bursa yang sama, maka diterapkan trading halt selama 30 menit. Selain itu, BEI juga telah mengubah aturan batas bawah auto rejection saham dari 10% menjadi 7%. Hal ini dilakukan untuk menekan jumlah transaksi penjualan saham atas sentimen kepanikan. 

Apakah Indonesia mengalami Ramadhan Effect pada Pasar Modal ?

            Ramadhan Effect artinya efek yang ditimbulnya dengan adanya bulan Ramadhan. Penelitian Sonjaya & Wahyudi yang dilakukan pada tahun 2015 menyimpulkan bahwa fenomena Ramadhan Effect benar adanya, namun sifatnya tidak bertahan. Pasalnya, faktor utama yang paling mempengaruhi kinerja pasar modal adalah keadaan krisis.  Hal ini berbeda dengan negara-negara mayoritas berpenduduk muslim lainnya seperti Arab Saudi dan Pakistan. Mengapa demikian? Secara garis besar, jumlah investor di BEI masih tergolong sangat sedikit. Hal ini berbeda dengan keadaan pasar modal di negara mayoritas muslim lainnya seperti Arab Saudi yang didominasi oleh investor domestik. Meningkatnya kebutuhan pada bulan Ramadhan secara langsung juga meningkatkan harga-harga kebutuhan pokok seperti beras, gula pasir, bawang, dan lain sebagainya. Secara tidak langsung, situasi ini juga akan mempengaruhi kinerja pasar modal. Alih-alih faktor fundamental seperti meningkatnya kebutuhan dan konsumsi masyarakat. Pergerakan di pasar modal lebih dipengaruhi kegiatan cari untung dan digerakkan sentimen. Selain itu, para investor yang khawatir akan anjloknya harga saham akibat krisis lebih aktif menjual dari pada membeli saham.  Saat Ramadhan pasar modal cenderung sepi dari transaksi, bahkan biasanya investor lokal cenderung melakukan aksi jual saham untuk THR. Sebab dengan kondisi yang tidak pasti saat Ramadhan, pasar akan bergerak tak menentu. Sehingga lebih baik bersikap sigap dalam bertransaksi untuk meminimalisir kerugian.

 

 

 

 

Komentar